Tuan Kejam & Nona Kesal
"Aku tidak bisa lagi," katanya, seperti menjatuhkan batu ke dasar hati. Satu kalimat yang tidak bergetar, tidak bermata basah. Hanya dingin. Hanya selesai.
Nona Kesal mematung. Ia mencoba mencari letupan dalam dirinya yang bisa meledak, tapi yang terasa hanya gemuruh yang terlalu lama ditahan.
"Kau kejam."
Tuan Kejam diam. Ia tidak menyangkal.
"Aku marah."
"Aku tahu."
"Brengsek!" akhirnya Nona Kesal menjerit, melempar seisi ruang yang masih mengingatkan pada keberadaan mereka berdua. "Kalau hatimu penuh luka, kenapa aku yang harus kau hukum?!"
"Aku tidak menghukummu," jawabnya datar. "Aku hanya memilih untuk tak menjadi alasan lukamu nanti."
Sakit. Tapi nyata.
Lalu hening. Yang panjang. Yang menusuk.
Tuan Kejam berdiri. Memakai sepatu seperti tak ada yang patah. Membuka pintu seperti itu rutinitas biasa.
Dan ia pergi. Tak menoleh. Tak menjelaskan lebih dari itu. Karena bagi Tuan Kejam, diam adalah bentuk terakhir dari kasih sayang—aman yang tidak terasa manis.
Nona Kesal berdiri di tengah reruntuhan emosinya. Matanya sembab, tapi bukan karena cinta—karena kebingungan yang tidak sempat ia pecahkan.
Ia mendekati pintu. Menutupnya.
Menguncinya.
Bukan agar Tuan Kejam tak bisa masuk.
Tapi agar dirinya sendiri tak keluar lagi.
Tak lagi menyusul. Tak lagi memohon jawaban dari kisah yang ternyata memang tidak untuk dimengerti hari ini.
Hari itu, Nona Kesal tidak sembuh. Tapi ia mulai bertahan. Dengan kekesalannya sebagai pelindung, dan dengan satu keyakinan:
Kadang cinta paling dalam adalah yang pergi tanpa menjelaskan, agar yang dicintai tak ikut terluka lagi dan lagi.
Semesta Lain,
ft. ChatGPT
Komentar
Posting Komentar
Mari tinggalkan jejakmu bila berkenan :)