Menelan Ludah
Aku memimpikanmu semalam.
Aneh. Bahkan di dalam mimpi pun aku masih merasakan perasaan mendalam darimu yang tak sanggup kuterima utuh. Jika kautanya adakah inginku padamu, ya, ada... mungkin, sedikit? Sisanya hanya rasa bersalah. Aku tahu diri, aku tak patut untuk kembali mendapatkan sepenuhnya perhatianmu lagi.
Aku bingung menyebut kumpulan gejolak rasa ini sebagai apa—enggan kah? Muak kah? Menyesal kah? Atau luka?
Benar kata mereka, jangan pernah berurusan dengan seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Tapi tunggu, apa sih yang dimaksud dengan "selesai" itu? Kapan kiranya aku tahu aku telah menyelesaikan urusanku dengan diriku sendiri? Bukankah tak pernah ada standar yang benar-benar terstandarisasi soal itu. Sedangkan menentukannya sendiri membuatku pusing.
Lupakan soal masa lalu, ini aku sedang berada di masa kini. Tapi masa lalu tak bisa berlalu. Ia masih melambaikan tangannya jauh, menjadi bayang-bayang atas tindakanku sekarang.
Menurutmu, apakah kamu bersedia memperjuangkanku lagi? Apakah kita bisa membangun rumah di Saturnus nanti?
Apakah cinta bisa dibangun ulang setelah salah satunya meluluhlantakkannya dengan semena-mena?
Apakah layak kamu yang sungguh-sungguh itu bersama dengan seorang yang keras kepala dan keras hati sepertiku?
Meski ingin kutelan ludahku dan memintamu ke sini, kurasa... sekali lagi kusuruh kamu pergi saja. Aku alergi ketulusan. Biarkan saja aku menanggung luka yang kucipta, kamu jangan coba-coba. Terlalu berbahaya.
—aksarasa
Komentar
Posting Komentar
Mari tinggalkan jejakmu bila berkenan :)