Kabar Baik

Lama tidak kembali ke sini untuk mencurahkan kegalauan hati adalah pertanda baik. Sebab artinya kondisi emosiku sedang stabil, kesibukanku cukup menyita perhatianku, dan pikiranku penuh oleh hal-hal di luar diri sendiri. Terkesan seperti tidak memprioritaskan diri, ya? Tapi, percayalah. Itu justru cara menyelamatkan diriku sendiri. 

Artinya, aku sedang selamat. Setidaknya untuk beberapa bulan ini. Meski tidak begitu di pekan paling terakhir. Ada memori yang seharusnya tidak boleh kuingat-ingat lagi, tapi malah berlalu-lalang secara kurang ajar di kepala. Mengapa hal-hal menyenangkan jarang sedetail ini melekatnya, coba?

Tapi, ya sudahlah. Mungkin memang seumur hidup aku harus menebus kesalahan dan kebodohanku. Rasa bersalah ini harus kujadikan bahan bakar untuk lebih pintar dan bijak dalam berkehidupan. Memaksimalkan sisa waktu yang cuma sebentar sebaik-baiknya. 

Namun, bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika perjuanganku tak berarti apa-apa? Bagaimana jika semuanya menganggap fase gelapku sebagai akhir dari segalanya—sumber kecewa yang harus dihakimi sefatal-fatalnya?

Kabarku baik, setidaknya sekarang. Sebab aku sempat berjalan kaki sejenak untuk menikmati sepersekian detik jeda yang syahdu. Di pinggir jalan sepi, tentu. Aku selamat dari kemungkinan menyakiti diri. Aku selamat dari mengurung tubuh di kamar sebab tak punya ruang privasi. Aku pun selamat dari kecelakaan sebab takut risikonya lebih dari sekadar masuk rumah sakit. Ya, maksudku, aku selamat alhamdulillah sebab Allah masih membolehkanku selamat.

Jadi, apa kabar?

Komentar

Postingan Populer